Resiko Pinjaman Online Jika Tidak Bayar
Ilustrasi

ACEHINSIDE.ID – Kredit online memungkin siapa saja untuk mendapatkan dana cepat melalui proses yang mudah. Namun, dibalik itu semua, resiko pinjaman online jika tidak bayar akan memberikan efek yang luar biasa bagi si peminjam. Bahkan tidak sedikit pemberitaan mengenai hal tersebut.

Untuk itu, bijaklah dalam menggunakan layanan dari fintech tersebut dan pastikan bahwa pinjaman online itu resmi dan terdaftar di OJK. Sebagai informasi, berikut beberapa resiko pinjaman online jika tidak bayar sebagaimana dikutip dari bisnisbali.com

Hutang Terus Membengkak
Kalau kamu berpikir berhutang di pinjaman online jauh lebih aman karena proses pengajuan KTA online sehingga jika tidak bayar data kamu akan hilang, itu salah besar. Justru dalam pinjaman online, denda dan bunga tetap berjalan semestinya.

Baca juga: Britney Spears Keluarkan Rp17,4 M untuk Konservatori

Artinya, semakin lama kamu menunggak, jumlah tagihan juga semakin membengkak. Sedangkan untuk denda, jika dijumlahkan harus sebesar 100 persen dari jumlah pinjaman. Artinya, kalau kamu meminjam Rp2 juta, maka dana yang harus dikembalikan ke pihak pinjol adalah Rp4 juta dalam tempo 90 hari.

Data Pribadi Tersebar
Risiko dan sanksi berikutnya yang mengancam nasabah pinjol yakni data pribadi bisa tersebar. Ini terjadi karena saat mengajukan KTA online di aplikasi Fintech, calon nasabah akan diminta memberikan informasi data pribadi.

Bahkan beberapa pinjol ilegal biasanya menggunakan data-data pribadi sebagai ancaman untuk nasabah yang menunggak. Mereka tidak segan menyebarkan ke semua daftar kontak pada smartphone kamu. Jika kamu mengalami hal ini, langsung laporkan Fintech ilegal tersebut ke pihak yang berwajib.

Baca juga: Layanan Pinjaman Online Bebas Riba, Duha Syariah

Bunga Pinjaman Tinggi
Bukan hal aneh kalau bunga pinjaman online dibilang tinggi. Hingga sekarang, OJK tidak mengatur soal batasan bunga pinjaman online. Tingginya suku bunga diserahkan kepada perusahaan pinjaman online.

Namun, perusahaan pinjaman online mempunyai alasan kenapa menerapkan bunga tinggi, salah satunya karena tingginya risiko nasabah online, kemudahan persyaratan dan kecepatan persetujuan pengajuan pinjaman.

BI Checking Memburuk
Dalam pinjaman online data pribadi digital memang menjadi jaminan dari reputasi nasabah yang merupakan pengganti dari jaminan agunan seperti pinjaman di bank. Risikonya kalau kamu menunggak atau bahkan gagal membayar, data pribadi digital bisa memburuk.

Bahkan pihak pinjol berhak melaporkan data pribadi nasabah tak bertanggung jawab itu ke OJK dan OJK akan memproses daftar orang dengan kredit bermasalah itu yang membuat penilaian BI Checking memburuk.

Ketika BI Checking jadi memburuk, maka akan dipastikan kesulitan dalam mengajukan pinjaman di Fintech lain hingga tak bisa disetujui dalam proses KPR (Kredit Pemilikan Rumah), pengajuan cicilan kendaraan bermotor sampai kartu kredit.

Baca juga: Daftar Aplikasi Pinjaman Online Ilegal Terbaru 2020

Didatangi Tukang Tagih atau Debt Collector
Kalau kamu dengan sengaja tidak membayar tagihan pinjaman, maka harus siap dengan segala risikonya termasuk penagihan melalui debt collector. Adanya tukang tagih ini memang dilakukan oleh Fintech setelah menjalin kerjasama dengan pihak ketiga di luar perusahaan.

Penagih akan mendatangi kediaman pribadi kamu, bahkan sampai mendatangi lokasi kerja. Tentu saja ini bisa bikin kamu malu.